Kamis, 10 Januari 2019

Bukan Saudaraku Yang Terlalu Baik. Tapi Aku Yang Terlalu Jahat

Sebaik apapun perlakuanku tetap saja aku yang dianggap salah. Salah jika aku terlalu baik terhadap saudara kandungku sendiri. Sehingga setiap kali mereka ingin berkata kepadaku saja mereka tak menyaringnya sampai ampasnyapun mereka masukka.
Entah dari mana penderitaanku dimulai. Aku tidak tau. Yang aku tau sudah cukup dan aku terlalu merasakan sakit.
Tahun kemarin ketika aku mau oprasi pengangkatan tumor seseorang yang dikatakan adik berniat baik padaku dan mebawarkan diri kepadaku untuk menemaniku dan menjagaku di rumah sakit. Tapi aku jahat. Saking jahatnya aku menolak kebaikannya. Aku tak ingin ditemani olehnya sebab aku masih ingat betul saat aku membutuhkan uang untuk membayar uang skripsiku dia tak ingin memberiku uang yang dikirim dari om'ku (Saudara Abbaku). Terus aku meminta bantuan pada tanteku (Saudara Mamaku) untuk meminta uang itu padanya sebab jika tidak dibayar dalam minggu ini. Aku tak bisa ikut ujian Skripsi. Padahal aku mengatakan padanya biar uang itu aku dulu yang mengambilnya sebab jika kuliahku sudah selesai toch semuanya bisa kau ambil. Tapi dia mengatakanku rakus. Iyya aku memang rakus. Terus dia tetap ngotot tak mau memberikan uang itu padaku. Oh iyya dia akan memberikan uang itu padaku jikalah aku datang padanya dan meminta maaf. Nahh baru uang itu dia kasi kepadaku. Saya memang salah dan sangat salah padamu adekku. Sebab kau selalu menelpon om' dan melarangnya mengirimkanku uang. Kata Tuhan aku disuruh sabar lagi. Is Oke....😂
Sampai" harusnya oprasiku jam 8 pagi dan harusnya pasien pertama yang dioprasi itu aku dari ketiga pasien yang melakukan oprasi. Tapi justru malah saya yang terakhir dikerja. Kenapa ? Sebab pembuluh daraku hampir peccah boo. Yaiyyalah kenapa tidak saya dibuat setres. Jujur demi allah aku berharap setelah oprasi aku tak ingin membuka mataku dan melihat dunia yang aku ingin lihat adalah alam lain. Sumpah saya cape jika selalu dituduh rakus uang. Aku tak ingin bermasalah sama saudaraku gara" uang. Lagi dan uang.
Kukira permasalahanku dengan saudaraku kuanggap itu yang terakhir tapu tidak lagi dan lagi tuhan mengujiku dengan pernikahanku di tahun 2019.
Saudara tertua dia sudah merencanakan untuk menikah pada tahun itu. Tapi aku tidak pernah mau mebikah tahun itu. Tapi lantaran saya didapat boncengan pergi rumah teman sama keluargaku 1 mobil. Ehhh udah dehhh besoknya om aku datang kerumah pagi" tepatnya jam 7 pagi. Kedor..kedor pintu terus aku bukka. Firasatky sudah tidak enak. Dan ternyata benar. Aku disuruh ikut sama saudara untuk nikah sama". Tapi apa yahhh antara mau sama tidak mau.
Maunya iyya. semua orang pastilah mau nikah cepat tapi tidak secepat ini juga. Masa aku disuruh ngebeng dinikahan orang yaaallah bikin malu. Sumpah demi allah.
Terus singkat cerita. Bla..bla..pacarku di telpon dan diajak cerita baik" dan akhirnya dia mau. Singkat prosesnya 1 minggu sudah cerita udah dehh aku nikah duluan dari pada dia yang kusebut kaka. Pihak calon suami minta dipercepat sebab mengejar akhir syawwal kata mereka. Dan pihak keluargaku menyetujuinya dan akhirnya aku dan suami menikah dengan uang panai seadanya dan semua sederhana tapi kami menikah soro kata orang bugis. Maksudnya nikah saja dulu resepsinya nanti sama kaka. Oke berselang 2 bulan kemudian resepsi pernikahanpun tiba. Aku tak tau menau soal lamming dan apalah itu. Yang aku tau hanya baju pengantinky saat resepsi besok aku yang tanggung sendiri. Sebab uang panaiku hanya sedikit. Yang lainnya saudara yang tanggung kann aku cuman ngebeng di resepsi orang. 2 hari sebelum resepsi mama dan saudara yg kedua tiba dari pulau sebelah. Saat malam resepsi entah dari mana dan entah apa yang sedang kulakukan saudara yang kedua bilang "wiya" Tanya suamimu bilang jangan suruh keluarganya datang banyak"  kerna bukanmi disitu uangnya suamimu dipake belanja makanan untuk besok. Tapi uangnyami asdar (calon suaminya kaka pertama). Masyaallah tuhan seberat ini ujianmu. Aku hanya bisa terdiam dan mengelus dadaku yang begitu terasa sesaknya. Sebenarnya saat saudara kedua bilang begitu. Hati ini ingin sekali mengatakan sesuatu. Tapi aku berfikir banyak orang. Dan kalau aku berkomentar takutnya bakalan melebar sebab aku bukan tipikal orang yg pendiam. Alias mulut aku juga berbahaya. Tapi kupikir sudahlah disabarin ajah.
Hal paling membencikan itu ketika suamiku mengetahui diriku diperlakukan seperti itu dia hanya menyuruhku sabar. Sabar..dan sabar. Ahhh pokonya kalau suami diajak curhat pakbalki itu j saja bisa nasuruhkan k sabar k looo... porenu saya yang dikasi begitu.
Terus setelah resepsi selesai akupun dan suami tinggal serumah dengan kaka pertama sama adik yang tadinya tinggal bersama nenek sekarang ikut tinggal dirumah. Aku dan suamiku dibikinkan kamar baru. Berselang 3 bulan kemudian saya yang tadinya jarang dirumah sebab kerja dari pagi sampe malam diwarungnya tanteku. Keesokan harinya kakak pertama ngomong keaku. "Wiya mau itu datang mama urus k' uang pensiunnya abba ditaspen. Konsiki nahh bellikan k' mama tiket pulang pergi"? Terus aku jawab "iye". Tapi tidak bs'kaa banyak kerna kurang uangku. Dan yang bisa kubantukan cuman 500 ribu j'. Dan dia menyetujuinya kaka pertama bilang "iyyo" saya sama rapia ta'1 jutaku. Jawabku"iyyo". Tapi kalau mau dipikir kenapa tong maui pulang urus uang pensiunan almarhum "abba" toch yang semua masuk tunjangan pensiunan almarhum khan cuman anak pertama,kedua dan ketiga. Itu yang anak ke-empat tidak masuk. Lagi pula saya nda kudapat m' juga uang pensiunan almarhum jadi buat apa juga diurus. Khan masi adahi kirimannya om' yang dari palu walaupun cuman setahun 2x. Tapi sudahlah aku lagi dan lagi malas debat. Terus fikirku juga buat apa coba mau diongkosi mama pulang toch tidak lama j tinggal" di rumah. Paling lama 10 hari. Eee sia" sudah paling jarang pulang. Pas pulang kesini hanya sebentar. Ibarat kata cuman numpang buang angin. Saya juga mau kali tinggal lama" sama mama kandung. Yang setidaknya tinggallah sebulan atau dua bulan. So' kalau di ongkosi pulang pergi bukan uang sedikit dipake. Tapi sudahlah "Malas Debat".
Oke gak lama kemudian mama'ku pulang di bulan desember 2018-18 tepatnya hari selesa. Terus dijemput dibandara pake mobilnya tanteku dan aku yang bayar dan bawa mama pergi makan soalnya lagi mau makan ditempat ikan bakar. Dan alhamdulillah lagi ada rezeki juga dari suami. Keesokan harinya mama diantar sama suami pake mobil rental. Dan itu dibayar gak' gratis soalnya kita tidak punya mobil. Aku tidak ikut sebab aku jaga warung (Kerja) yahhh seminggu lebih mama' berada disini semua ongkosnya mama dan pengeluaran lainnya yang tanggung kaka pertama. Iyyalah jelas situ yang temani mama sebab saya khan kerja. Terus 3 hari sebelum mama pulang. Kaka pertama ngajakin "bilang ayo temani mama pergi dimertuaku"? Dengan polosnya diriku langsung bilang "iye". Terus aku bilang suamiku m saja bawa mobil dari pada ada sepupu dia dipanggil pasti dibayar k lagi. Kalau suamiku tidak j. Oke jalan" pergi bantaeng. Singgah pertama dipertamina aku isi bensin 100 ribu. Terus semua biyaya yang dikeluarkan mulai dari singgah makan dan masuk permandian kaka pertama bayar entahlah mati" berapa. Intinya saya tdk tau. Terus sampai dirumah. Mama minta kerumahnya mertuaku otomatis itu mobil dilanjut dong rentalnya khan gak' mungkin mereka di antar jemput pake motor. Mungkin bisa saja tali cape booo. Belum lagi perut gw yang makin besar. Dan aku sama suami lagi" berfikir mending dilanjut m rental mobil sampai besok kerna mau diantar mama lagi pergi bandara. Khan kalau dikasi pulang juga salah". Oke tiba masanya hari jum'at tepat tgl 28. Gw minta uang rental sama kaka pertama 400 sisanya saya. Dan semuanya harga rental mobil selama  2 hari stengah itu totalnya 650. Dan waktu kemertuaku saya j mau bayar k mobil itu satu hari. 250. Ehh dianya gak' mau dia maunya dibagi 2 dan katanya takkala sudah natanya suaminya bede 250 j' nabayar mobil. Pikir aku yang tolo. Gimana caranya dia tanya suaminya harga rental mobil gitu. Oke hitungannya khan kalau diambil jam 6 sore pati besoknya kembali jam 6 sire nahh kita dari rumahnya mertuanya ajah itu sampe dirumah jam 12 malam. Itu ajah udah masuk 1 hari stengah neng. Terus dia mauya itu mobil sudah dipake harusnya dikembalikan malam itu juga. Hehhh lo'kira suami gw engga cape apa bawa mobil terus hah.
Terus gw diam. Ehhh dia banyak ngoceh sampe-sampe nyebutin satu persatu dan rinciin ke aku tentang berapa uangnya yang keluar selama mama ada dirumah dan tanpa terkecuali diasebutin juga barang-barang yang dia belli untu rumah seperti minyak.sabun dan sembako lainnya. Paling bikin sakit hati dehh tuch dia sebutin juga. Kata dia nihh yahh" bagusko itu tidak ngontrak rumah jeko. Masih tinggal'ko dirumah. Kalaungotrakkoitu lebih banyak lagi ongkosmu". Katanya lagi sudah saya tongpa bede jarang belanja sembako". Dan tanpa terasa air mataku jatuh. Pikirku kok' tega sekali saudaraku mengeluarkan kata" seperti itu. Aku berfikir andaikan saya tidak lagi hamil besar sudah bakalan saya tampar mulutnya. Padahal kalau mau dilikir belanja jeka kasian sembako tapi sebulan sekaliji kernapikirku "saya khan jarang tinggal dirumah. Makan dirumahpun dalam sebulan bisaji dihutung kasian
"Ibarat kata saya tinggal dirumah cuman numpang tidur sama mencuci baju. Itu doang". Terus kenapa saya mau belanja sembako banyak". Kaka pertama khan belanja sembako 2 bulan sekali dan saya hanya sebulan sekali. Saya khan sama suami lebih banyak diluar dan makan diluar kasian.
Tak kusangka selama ini dia tidak ikhlas belanja sembako. Dan tidak ikhlas aku dan suami tinggal seatas sama dia. Ibarat kata kalau engga ikhlas jangan dikerjakan. Sebab jikah disebut maka akan berguguran semua amal kebaikan kita.
Yahh tidak heranlah saya diperlakukan seperti itu sebab rumah yang sekarang ditinggali khan atas nama dia. Jadi mau-mau dia ngusir saya kapan saja.
Terus paling bikin emosi juga aku bikin status di sosmed trs' dikomen sama kaka kedua. Dia tanya. Kenapako lagi wiya ? Ehhh saya cerita soal kejadian ini malah dia bilang saya memang salah. Dan dia bilang lagi katanya sifatku jellek. Sampe" nene saja bede bilang itu wiya kaya mau semua namusuhi tantenya. Nahh sampe sekarang belum peka ini pergi dineneku dan tanyaki. Jujur geram sekali mulut saya ini. Sampe-sampe saya bertanya-tanya sejelek apa sebenarnya sifatku.